Kisah Dibalik Kenikmatan Gudeg Yogyakarta

Kuliner yang paling terkenal di Yogyakarta adalah gudeg. Bahkan makanan berasa manis ini telah menjadi salah satu ikon Yogyakarta, hingga disebut sebagai Kota Gudeg.

Dalam Festival Gudeg Wijilan yang digelar pekan lalu, apresiasi diberikan pada pelopor pembuat gudeg di Yogyakarta, seperti Ibu Slamet, Ibu Djum dan Ibu Lies. Beberapa tokoh gudeg ini dinilai telah mengangkat gudeg sebagai ikon kota Yogyakarta.

Chandra Setiawan Kusuma ketua Paguyuban Gudeg Wijilan mengatakan bahwa pemilihan tokoh yang mendapat penghargaan ini dipilih bukan hanya berdasarkan dedikasinya tetapi juga citarasa gudegnya yang khas.

Pelopor Gudeg Otentik

Kepada Liputan6.com, Bu Slamet yang sudah berumur 89 tahun mengisahkan awal mula keluarganya berjualan gudeg di Jogja. Bu Slamet mengaku belajar membuat gudeg dari ibunya sekitar tahun 1946. Saat itu dirinya membantu ibunya membantu membuat gudeg di dapur. Waktu itu dirinya belajar dari ibunya membuat gudeg basah belum gudeg kering seperti saat ini. “Mulai saat serangan umum satu maret itu pas agresi belanda 1946. Waktu itu gudeg basah. Belum kering kayak sekarang,” ujar Bu Slamet.

Sementara Eni Hartono, putri Yu Djum atau Djuwariyah menceritakan saat itu ibunya belajar membuat gudeg dari ibunya juga. Yu Djum mulai berjualan saat umurnya 17 tahun. Usia bisnisnya yang masih baru saat itu terpaut 10 tahun dengan bu Slamet.

Saat itu, gudeg sudah menjadi makanan kesukaan rakyat Yogyakarta. Bahkan sekitar tahun 1956, gudeg mulai banyak dijual sebagai simbol makanan rakyat. Demi menjamin gudeg yang enak dan mantap, Gori atau nangka yang digunakan untuk membuat gudeg diambil dari kawasan Prembun Kebumen. Eni menjelaskan bahwa dalam sehari Gudeg Yu Djum biasa memesan 1 Kuintal Gori. Di musim liburan, angka pemesanan ini bisa bertambah hingga dua kali lipat.

Dibanding kedua pelopor gudeg diatas, Liesdiyah Dharmawati atau Bu Lies merupakan yang termuda. Ia mulai berjualan di Wijilan pada tahun 1993. Saat itu Bu Lies hanya latihan sendiri dan mulai menjual gudeg di emperan jalan.Saat itu, hanya ia saja yang berjualan gudef si wilayah Wijilan, hingga akhirnya ada tiga penjual gudeg di wijilan pada tahun 2001, dan jumlahnya terus bertambah hingga sekarang.

“Tahun 2001, saya baru beli rumah disini (Wijilan), dan kebetulan memang saya suka masak gudeg di rumah. Saya masih ingat, saat pertama kali berjualan, modalnya satu ekor ayam dan sepuluh telur, satu kilo gudeg, dan satu kilo krecek (kulit sapi yang dicacah lalu dimasak bumbu pedas). Saat itu jelang Hari Raya Lebaran,” kenang Bu Lies ketika diwawancarai oleh Liputan6.com.

Dijelaskan Bu Lies, meski berasal dari Yogyakarta, namun sejumlah kota di Jawa Tengah dan Indonesia bagian lainnya juga sudah banyak memproduksi gudeg. Solo, misalnya. Namun dikatakan Bu Lies, ada perbedaan antara gudeg buatan Jogja dan buatan kota lain. Gudeg Jogja cenderung kering dan tahan lama dari gudeg buatan Solo atau daerah lain. “Gudeg Yogyakarta, terutama daerah Wijilan, biasanya tidak mengandung kuah. Selain itu bahan ayamnya menggunakan ayam kampung dan telur bebek. Kreceknya juga kering karena dimasak sampai benar-benar matang sehingga tahan lama hingga 24 jam,” jelas Lies.

Visit Us On TwitterVisit Us On Facebook